Minggu, 04 Januari 2015

HOW TO MAKE YOUR DREAM COME TRUE??

Hari ini saya akan membahas mengenai, how to make your dream come true? Saya yakin pasti setiap orang memiliki mimpi yang berbeda-beda. Dan pasti ingin sekali apabila mimpi itu dapat terwujud, disini saya akan memberikan sedikit tips. Yang bisa membuat mimpi-mimpi kita dapat terwujud.
  1. Tekad merupakan yang pertama, karena tekad ini merupakan hal yang benar-benar kita ingini. Jika tekad ini tidak ada maka akan sulit untuk kita dapat menjadikan sebuah mimpi ini menjadi nyata. Tekad yang kuat akan membawa kita akan semakin kuat pula dalam melakukan atau mengapai apa yang kita mimpi-mimpikan.
  2. Disiplin Diri adalah step kedua setelah tekad, apabila tekad yang kita miliki ini sudah kuat maka kita harus melanjutkan ke step selanjutnya yani disiplin diri. Disiplin diri membuat kita lebih teratur dalam melaksanakan apa yang kita ingin laksanakan. Disiplin diri ini membuat kita lebih teratur dalam melaksanakan tugas kita sebagaimana yang kita inginkan. Dengan kita disiplin maka kita akan konsisten untuk melaksanakan apa yang kita ingini. Tahap ini tahap yang mungkin sulit kita lakukan karena kadang kita tidak konsisten melakukan apa yang kita ingin lakukan. Maka dari itu tahap ini dikatakan yahap yang sangat penting.
  3. Usaha adalah step ketiga, karena tanpa usaha step pertama dan kedua hanyalah impian semata. Segala sesuatu yang kita ingini harus ada usaha agar semua mimpi itu dapat mejadi nyata. Sekecil apapun kita harus memiliki usaha, agar kita daat melihat sejauh mana mimpi kita. Dan berusaha agar mimpi kita ini dapat menjadi nyata.
  4. Doa merupakan langkah selanjutnya dan merupakan langkah tambahan juga. Tanpa doa mungkin tidak lengkap rasanya. Karena segala sesuatu yang kita lakukan harus ada doa supaya semua terasa lengkap. Dan kita semakin dekat dengan mimpi-mimpi kita.

Nah 4 tahap tersebut apabila kita lakukan dengan telaten maka kita akan dapat mewujudkan mimpi-mimpi kita sedikit demi sedikit, hingga mimpi-mimpi kita semua menjadi nyata. 
MIMPI


Ketika ku terbangun....
Hari telah berganti....
Waktu selau berputar tiada hentinya....
Semakin hari, semakin detik waktu itu terus menggerogoti setiap detik kehidupan.....
Entah sampai kapan....
Yang jelas aku masih memiliki mimpi....
Dimana mimpi itu terus dan terus di jemput oleh waktu....
Dalam hening ku berharap semua mimpiku menjadi nyata...
Ku berharap, semua mimpi tak hanya menjadi mimpi..........
Hingga waktu ini berganti....
Dan semua mimpi telah berubah menjadi nyata.....

Kamis, 01 Januari 2015

Tahap Menulis Bagi Pemula

Dalam menulis kita sebagai pemula pasti menemukan titik kesulitan, apalagi berkenaan mengenai ide dan awal tulisan. Tapi menulis merupakan suatu cara kita dalam mengekspresikan diri kita. Dari menulis kita dapat menguji sejauh mana kemampuan kita dalam menggunakan kata-kata dan menjadikan diri kita menjadi produktif. Dalam artikel ini ada beberapa step dalam menulis, mungkin dapat membantu bagi penulis pemula, seperti saya hehehe..

Pemilihan Topik/Tema

Topik atau tema itu berbeda dengan judul. Tema harus ada dalam sebuah tulisan, berbeda dengan judul. Tema selalu ada di awal sebelum kita menulis, jadi kita harus menentukan tema sebelum memulai sebuah tulisan, jika pada judul dapat di beri di tengah atau akhir sesuai kapan kita menemukan judul itu, berbeda dengan tema, tema harus ditentukan dulu sebelum kita menulis. Tema adalah pondasi awal dari pembahasan yang mau kita tuliskan. 

Dalam menentukan sebuah topik/tema, tentunya kita harus memiliki ide yang mau kita bahas atau tuliskan. Ide itu dapat kita temui di sekitar kita, apapun bisa kita jadikan bahan untuk menuliskan sesuatu. Jika kita sudah merasa stag atau kehabisan ide, maka jangan pernah paksakan diri. Biarkan ide itu mengalir dengan apa adanya.

Membuat Kerangka Tulisan (Draft)

Kedua setelah kita menemukan ide, kita harus membuat kerangka tulisan. Begitu menemukan ide untuk tema langsung ditulis. Tapi untuk mempermudah dalam kita menulis khususnya untuk penulis pemula, membuat kerangka tulisan sangat diperlukan. Ibarat kita mau pergi ke suatu tempat yang belum pernah kita ketahui, maka kita perlu tahu jalan yang harus kita lewati. Kerangka tulisan itu bisa menjadi map dalam kita menjabarkan tulisan menjadi lebih dalam. Jadi kita harus bisa membuat point-point mengenai apa yang akan kita tuliskan. Untuk membuat kerangka tulisan kita wajib menuliskan diantaranya semua ide, mengembangkan ide yang ada, dan tulislah dengan gaya bebas. 


Menulis (Merangkai Kata)

Setelah kita melakukan tahap pertama dan kedua, kini tahap selanjutnya adalah dengan tahap merangkai kata. Semua point yang telah ada di kembangkan lebih mendalam pada tahap ini dan semua point itu digabungkan menjadi satu. Alur yang sudah kita rancang juga dituliskan dalam sebuah cerita. Inilah tahap yang sangat sulit bagi pemula, karena dalam merangkai kata merupakan tahap yang cukup sulit. Seperti halnya yang dilami oleh saya. Namun semua ide yang ada sebaikan di tuliskan disini. Nah tahap selanjutnya yang akan menentukan bagus atau tidaknya karya dari seorang penulis tersebut. 


Merevisi (Mengedit)

Nah.. inilah tahap yang cukup menguras waktu bagi seorang penulis, yakni tahap editing. Dalam tahap ini kita harus teliti pada tulisan kita, sehingga tahap ini cukup menguras waktu. Dalam tahap ini merupakan tahap untuk merevisi tulisan kita  sendiri. Selain itu jika pada saat menulis kita sering merevisi, akan membuat kita seperti orang yang tidak teguh pendirian. Itulah yang menyebabkan kita sering menghapus tulisan, merobek kertas saat ada tulisan yang salah, menulis ulang lagi yang membuat pekerjaan menulis kita tidak kunjung selesai dan akhirnya menyebabkan stres lalu patah semangat untuk melanjutkan tulisan.

Dalam tahap revisi (edit) ini, kita periksa kembali hasil tulisan kita. Mungkin saja ada ejaan yang salah, tata bahasa yang kurang tepat, poin-poin yang terlewatkan, penyebutan tokoh yang salah, alur yang tiba-tiba meloncat atau mau merubah susunan atau jalan ceritanya dan sebagainya. 


Nah keempat tahap tersebut bisa di lakukan bagi siapa pun yang ingin menulis, dan dalam menulis janganlah takut, karena dengan menulis kita juga bisa mengeluarkan ekspresi kita. 

BODHISATTA

Pengertian Bodhisatta dalam Agama Buddha Mahayana (2009:66) mengemukakan bahwa seorang Bodhisatta merupakan Buddha yang akan datang, dan kita semua adalah calon-calon Bodhisatta. Dalam buku ini juga menjelaskan bahwa kita memiliki benih kebuddhaan yakni beneh-benih dalam membantu makhluk lain yang menderita seperti halnya hal-hal yang di lakukan oleh para Bodisatta.
Berbeda dengan Theravada dalam Mahayana menekankan kita memiliki benih ke-Buddhaan, jika pada aliran Theravada seseorang tidaklah mampu menjadi Buddha karena perlu parami[1] yang cukup. Apabila seseorang tidak memiliki parami yang cukup maka tertutupah dia atau bisa dikatakan tidak mungkin mencapai ke-Buddhaan. Mahayana menekankan hal ini karena agar setiap umat Buddha melakukan hal yang baik sehingga ia sangat tergerak untuk menjalani kehidupan Buddhis yang menekankan pada perbuatan baik.
Dalam Mahayana ada dua pandangan mengenai Bodhisatta:
1.        Mereka yang mengambil janji untuk merealisasi cita-cita mereka di jalan menuju ke Buddhaan.
2.        Mereka yang selalu berusaha keras mencerahkan makhluk-makhluk lain dengan mempraktikan empat ikrar agung dan paramita-paramita.
Bodhisatta yang mencapai ke-Buddhaan salah satunya yakni Buddha Sakyamuni. Kisah-kisahnya dalam membantu makhluk hidup sudah bukan menjadi hal yang tabu. Banyak sekali kisah yang menceritakan mengenai Buddha Sakyamuni ini, salah satunya di berbagai kisah jataka[2] serta adapula dalam kronologi riwayat hidup Buddha Gotama, di dalam kedua buku tersebut di ceritakan bagaimana Sang Buddha menolong makhluk hidup dengan cinta kasih yang dimilikinya.
Kisah Buddha Gotama yang di ceritakan menolong makhluk lain ada dalam Buddha Gotama (2014 : 124 ) yang menceritakan bahwa Sang Buddha mengembangkan benih ke-Buddhaanya untuk menolong makhluk lain dalam cerita ini Buddha Gotama menyelamatkan Anak Malang yang bernama Sopaka. Di dalam buku ini di ceritakan bahwa Sopaka merupakan anak berusia 7 tahun, yang tinggal bersama ibu dan pamannya. Pada suatu hari Sopaka bertengkar dengan keponakannya, lalu oleh pamannya Sopaka di ikat dan di bawa ke sebuah kuburan. Sopaka di ikat pada seonggok mayat yang ada di dalam kuburan itu. Dengan kekuatan yang dimiliki olehnya Buddha Gotama mengetahui hal ini dan datang untuk melihat Sopaka dan kiranya Sopaka telah pantas untuk mencapai kesucian. Lalu datanglah Buddha Gotama dan mengajaknya ke sebuah vihara, dan menjadikannya ia sebagai samanera kecil. Setelah Sopaka mencapai tingkat kesucian ibu Sopaka pun mencapai kesucian dan ketika Sopaka bertemu dengan ibunya. Ibu Sopaka mengijinkan Sopaka menjadi seorang Bhikkhu. Ketika Sang Buddha Gotama memberikan 10 pertanyaan kepada Sopaka.Ia dapat menjawabnya dengan baik, lalu Sang Buddha Gotama menjadikan Sopaka menjadi seorang samanera karena usianya yang belum cukup untuk menjadi seorang Bhikkhu.
Itu merupakan salah satu kisah dalam pengembangan Bodhicitta yang di lakukan oleh Buddha Gotama. Namun jika sekarang kita dapat mempraktekan hal-hal yang bajik maka kita sudah memiliki benih ke-Buddhaan itu. Atau dengan mengucapkan ikrar maka menambah kita semakin yakin dan semakin membuat kita untuk menjalankan perbuatan bajik seperti yang di lakukan oleh para Bodhisatta.
Langkah pertama di jalan Bodhisatta adalah saat ia mengikrarkan janji-janji menurut Shantideva dalam Bodhicharyawantara-nya, terdiri dari :
1.      Dosa yang terakumulasi di dalam kehidupan-kehidupanku yang dahulu, yang terakumulasi di dalam semua makhluk, tak terhingga banyaknya dan besar pengaruhnya. Dengan kekuatan apa ia dapat di taklukan jikalau bukan dengan keinginan untuk mencapai pencerahan,dengan keinginan untuk menjadi Buddha demi keselamatan manusia. Keinginan yang sama sekali tanpa pamrih ini tak terhingga keramatnya. Ia menutupi banyak sekali dosa. Ini menjamin kebahagiaan sepanjang menjalani lingkaran kehidupan. Ini adalah janji tentang kebahagiaan tertinggi dan para Buddha untuk diri sendiri dan sesama. Segala hormat bagi para Buddha yang secara alami di cintai oleh semua orang yang memiliki tujuan semata-mata untuk menyelamatkan manusia.
2.      Saya memuja para Buddha dan Bodhisatta dengan maksud menjalankan ikrar pencerahan (wandana). Tanpa memiliki satu apapun, mengingat dosa-dosa saya, bagaimana saya dapat mempersembahkan kepada mereka penghormatan puja yang pantas bagi mereka? Tetapi saya keliru. Saya memiliki sesuatu. Saya memberikan diri saya sendiri sepenuhnya dengan kasih sayang yang tulus kepada para Buddha dan anak-anak mereka, para bodhisatta yang agung. Saya adalah abdi mereka dan,dengan itu, tidak ada lagi bahaya untuk di takuti. Dari semua bahaya, yang paling besar adalah bahaya yang datang dari dosa-dosa saya. Saya tahu betapa bahayanya dosa-dosa itu, saya menyesalinya dan saya mengakuinya. Saat melihat dan anda melihat dosa-dosa itu sebagaimana adanya; maafkanlah!
3.      Selain cukup bagi diri saya sendiri, hendaklah saya sepenuhnya menjadi milik para Buddha dan semua makhluk. Saya bersuka cita dalam perbuatan baik, yang sekaligus mencegah dilahirkan kembali dengan kemalangan di antara manusia biasa. Saya bersuka cita atas pembebasan yang telah di capai oleh para arahat. Saya bersukacita dalam kemuliaan Buddha dan Bodhisatta, yang di miliki oleh pelindung dunia. Saya memohon kepada mereka untuk masuk ke dalam Nirwana. Semua kebajikan yang diperoleh dari pemujaan sayakepada para Budha, tindakan saya menerima perlindungan, pertobatan saya atas dosa-dosa saya, saya lakukan untu kebaikan semua makhluk dan untuk mencapai pencerahan.
4.      Saya ingin menjadi roti bagi yang lapar, minuman bagi mereka yang dahaga. Saya berikan diri saya, semua yang saya miliki dan yang akan saya miliki dalam kehidupan-kehidupan saya yang akan datang, kepada semua makhluk. Dengan kecendrungan yang sama seperti halnya Buddha-Buddha terdahulu ketika mereka menjalani ikrar-ikrarmencapai pencerahan, dan sebagaimana mereka melaksanakan segala kewajiban bakal Buddha, mempraktekan kebajikan-kebajikan yang sempurna dengan semestinya sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan tersebut, saya membangkitkan keinginan untuk mencapai pencerahan demi keselamatan dunia. Maka saya melaksanakan semua kewajiban saya maupun semua tekad saya dengan semestinya.
Lalu setelah membacakan ikrar ini mungkin agar lebih menarik untuk merenungkan sepuluh tingkatan Bodhisatta. Di dalam Bodhisatta erat kaitannya dengan paramitta. Paramitta merupakan keutamaan sepurna, di bagi atas :
1.    Dana merupakan kemurahan hati, amal, pemberian, berupa sumbangan yang bersifat materiel[3] juga yang bersifat mental atau spiritual.
2.    Sila merupakan moralitas atau perbuatan baik, untuk mengenyahkan[4] sebisa mungkin semua keinginan jahat, bukan untuk keuntungan diri sendiri, tapi sebagai jaminan agar dapat terlahir kembali dengan baik dalam rangka menyelamatkan makhluk-makhluk lain.
3.    Ksahnti merupakan kesabara, menahan diri, sebagaimana bakal Buddha tidak pernah mengembangkan kemarahan, tidak sabar, atau bergejolak atas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, karena dia selalu menyadari pikirannya bahwa semua persoalan ada sebab dan akibatnya.
4.    Virya merupakan paramitta yang keempat. Dalam menapaki jalan di perlukan semangat seperti dari arti virya sendiri. Tidak memiliki keputusasaan, tidak menjadi terikat pada kesenangan-kesenangan duniawi, dan tetap menjaga kuat-kuat kebulatan tekadnya.
5.    Dhyana merupakan perenungan atau meditasi. Metode meditasi ini sering di gunakan dalam mahayana karena untuk mendapatkan pengetahuan murni yang diperlukan, yang akan menolong kita menempuh perjalanan dan mempersiapkan kita untuk merealisasi Paratmasamata, perenungan tentang persamaan diri sendiri dan sesamanya.
6.    Prajna merupakan keutamaan tertinggi, meskipun untuk mencapainya, semua paramitta yang lain harus dilaksanakan bersama-sama.
7.    Upaya merupakan keterampilan dalam cara.
8.    Pranidhana merupakan ikrar atau tekad.
9.    Bala merupakan kekuatan atau daya.
10.    Jhana merupakan pengetahuan luhur.




[1] Parami adalah syarat-syarat sempurna yang dimiliki seorang Bodhisatta untuk mencapai ke-Buddhaan
[2] Jataka merupakan buku yang menceritakan kisah-kisah bodhisatta ketika menjadi binatang
[3] Materiel berupa benda yang memiiki nilai materi seperti uang atau barang,
[4] Mengeyahkan atau dapat disebut menghilangkan.

Jumat, 19 Desember 2014

DHAMMA CAMP

Dhamma Camp ini di selenggarakan oleh Atisa Dipamkara. Atisa merupakan sebuah yayasan sekolah yang berdiri di Karawaci - Tangerang. Saya sangat terkesan sekali ketika di beri kesempatan mengisi di acara dhamma camp 2014 di daerah Sentul - Bogor. Itu merupakan hal yang baru bagi saya untuk terjun langsung dan bertemu dengan anak-anak SMP yang memiliki karakter yang berbeda.

Ini merupakan pengalaman baru saya, dapat bersama dengan mereka selama tiga hari dua malam, menikmati bagaimana sejuknya udara sentul, namun hal yang membuat saya sangat terkesan ketika semua karakter itu melebur jadi satu. Hampir kurang lebih ada 70 anak yang mengikuti acara ini dan saya serta teman saya dapat mendampingi mereka, mengajari bagaimana proses athasilla, membuat mereka mengontrol diri mereka, dan tiba saatnya yang namanya sebuah perpisahan.

Atisa Dipamkara merupakan salah satu yang membuat saya terkesan, jujur kemarin saya masih kurang puas bertemu dengan anak-anak yang memiliki keseruan seperti mereka. Misalnya ada beberapa siswa yang membuat saya tergelitik untuk mencari tahu lebih dalam tentang dirinya. Dia Michael, anak kelas 7 yang memiliki hal yang unik. Bagaimana tidak? dia menceriakan kepada saya bahwa dia selalu bermimpi dan mimpi itu selalu menjadi sebuah kenyataan. Teman-temannya mengatakan bahwa dia indigo, namun saya belum percaya betul apakah dia benar-benar indigo atau tidak. Saya melihat dia merupakan anak yang cerdas, dia dapat melihat makhluk yang berbeda dengan alam kita. Dia bercerita bahwa dia sempat bertemu dengan penunggu kamar mandi di sekolahnya, dia berkata bahwa penunggu toilet itu adalah seorang noni belanda. Nah sejak saat itu Michael mulai menjaga jarak dengan temannya itu, karena jika ia bercerita lebih dalam dengan temannya maka temannya akan takut. Hal itu yang tidak di inginkan dari Michael. Dia selalu menghampiri saya di saat jam kosong dan dia menceritakan hal ini kepada saya, entah karena saking penasarannya, saya bertanya kepadanya dan dia menjelaskan semua yang pernah ia lihat dan mimpi yang pernah terjadi dalam kehidupannya.

Michael kecil bercerita mengenai bagaimana dia bisa menjadi seperti itu, mengalami hal aneh ini. Dia bercerita bahwa kejadian ini bermula sejak neneknya meninggal. Dan ia bertemu dengan neneknya di mimpinya. Serta ia bercerita pula bahwa ia memiliki kekuatan seperti ini karena keturunan dari ayahnya. Teman-teman sekelasnya selalu bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi kepada Michael karena jika di lihat saat dhamma camp dia selalu mencari objek yang seharusnya tak di cari oleh anak seumurnya. Saya masih penasaran mengenai kebenaran yang terjadi pada diri Michael.

Masih banyak karakter yang dimiliki oleh anak-anak kelas 7 ini. Karin yang cerewet, Aura yang aktif, Maybella yang lembut, dan banyak lagi karakter yang dimiliki oleh anak-anak seumur mereka yang tak bisa disebutkan satu persatu. Sebenarnya saya tak ingin berpisah dengan mereka namun inilah sebuah kehidupan yang terus berproses, mereka anak yang manis-manis yang sangat baik untuk di ajak bersahabat. Terkesan sekali ketika mereka dapat bersatu, menjaga kekompakan mereka, walaupun kadang ego mereka lebih kuat tap itulah mereka yang masih dengan sifat anak-anak mereka.

Selasa, 18 November 2014

PENGIMPLEMENTASIAN TEKNOLOGI BAGI PABBAJTA
DI ERA MODERN DIKAITKAN DENGAN VINAYA
Oleh : Sucitta Rantia Dewi
Pendahuluan :
Di era modern ini, teknologi bukanlah hal yang awam kita dengar. Djoyohadikusumo  dalam Herufal (1994 : 222) mengatakan bahwa teknologi berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya. Berkaitan dengan teknologi, kini banyak yang menggunakan teknologi. Seperti halnya sosial media yang peminatnya sudah banyak. Hal itu disebutkan oleh Wahono, T. (2012, February 1). Jumlah Pengguna Facebook Indonesia disusul India. Kompas mengatakan bahwa Indonesia merupakan pengguna sosial media yang cukup banyak.  Dalam hal facebook yakni Indonesia memiliki 43, 06 Juta pengguna. Jika dikaitkan teknologi ini sangat erat kaitannya dengan perubahan zaman yang terus menerus berevolusi, bahkan kini para pabbajta pun harus mengikuti perubahan zaman ini.
Kini banyak sekali bhikkhu yang sudah mulai mengikuti perkembangan zaman ini dengan menggunakan handphone, jejaring sosial, dan hal-hal yang lain untuk berdiskusi dhamma dengan umat, seperti yang dapat kita temui di beberapa akun. Di dalam facebook ada beberapa account yang di miliki oleh pabbajta, contohnya account dari Bhante Pasura Dhantamano. Bhante Pasura adalah salah satu bhante yang berasal dari Thailand. Bhante Pasura cukup aktif di facebooknya. Bagaimana hal ini jika dikaitkan dengan vinaya? Hal tersebut sering kali ditanyakan oleh umat awam, dan sering pula menjadi topik dalam diskusi dhamma.
Pembahasan :
Pabbajta[1] erat kaitannya dengan vinaya, segala perbuatan yang di lakukan di kaji di dalam vinaya dan vinaya sifatnya mengikat bagi para pabbajta. Rashid (2009 : 24 ) menyatakan bahwa vinaya  memiliki pengertian yakni melenyapkan, menghapuskan segala sesuatu yang sifatnya menghalangi kemajuan batin seorang pabbajta.
Pabbajta di era Buddha berbeda dengan pabbajta di era modern ini.  Di era modern tidak lepas kaitannya dengan Ilmu pengetahuan, dalam agama Buddha ada beberapa sifat Ilmu Pengetahuan yang berkaitan. Menurut Spencer (2004 : 30 ) mengatakan bahwa agama Buddha ialah suatu sistem, yang mempunyai pandangan yang objektif dan mandiri, mengenai sifat dan tujuan manusia.  Pandangan objektif yang berupa pandangan yang apa adanya serta disini pula dibahas mengenai mandiri, artinya mandiri disini adalah mandiri dalam hal sifat manusia. Seperti halnya sifat manusia yang mengikuti era modern ini jadi dalam agama Buddha tidak kaku dalam pemandangan hal seperti itu. Di era Buddha peraturan vinaya lebih ketat dibandingkan dengan  era sekarang. Vinaya pada era Buddha masih utuh seperti yang di babarkan oleh Sang Buddha, namun sejak terjadi konsili II di kota Vesali maka vinaya mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi di karenakan adanya penyimpangan yang terjadi dalam praktik vinaya. Khususnya pada saat itu penyimpangan yang terjadi pada suku vajji. Di dalam konsili II ini terjadilah perpecahan antara Sarvasthivada[2] dan Mahasanghika[3], dengan adanya perpecahan ini maka vinaya pengalami perubahan khususnya pada vinaya kecil. Hal ini pula yang menyebabkan vinaya pada Theravada berbeda dengan vinaya pada Mahayana.
Dalam Theravada vinaya pada bhikkhu berjumlah 227 berbeda kiatannya dengan vinaya dalam Mahayana, hal ini karena dalam Mahayana vinaya ada yang sedikit di ubah sehingga peraturannya ada beberapa tambahan. Hal ini yang mungkin menjadi sebuah pelopor mengapa teknologi dalam era modern ini berkembang pada anggota Sangha khususnya Mahayana. Hal itu dikaitkan dengan perubahan yang terjadi di konsili ke II. Di dalam vinaya dikatakan bahwa vinaya memiliki sifat yakni tidak kaku. Namun ada beberapa peraturan yang memang tidak dapat diubah. Pada teknologi yang sedang berkembang pesat ini, para pabbajta tidak di salahkan apabila menggunakan handphone, sosial media, ataupun alat teknologi lainnya. Teknologi yang digunakan ini harus memiliki tujuan untuk menyebarkan dhamma, bukan untuk hal-hal yang negatif. Sigalovada Sutta dalam buku Materi Agama Buddha Untuk Perguruan Tinggi Agama Buddha ( 2003 : 90) menyatakan bahwa bhikkhu harus memberikan suri tauladan yang baik, dhamma yang bermanfaat bagi gharavasa. Ini jika disimpulkan dan mengacu kepada vinaya. Hal tersebut tidak disalahkan, karena dilihat dari segi tujuan adalah demi kepentingan dhamma yang manfaatnya dirasakan pula oleh gharavasa[4]. Dilihat pada era Buddha sosial media belum ada. Sehingga hal semacam ini tidak di masukan ke dalam vinaya, dan jika dibandingkan pula kemampuan pabbajta di era Buddha sangat berbeda sekali dengan era sekarang. Jika di era Buddha para pabbajta memiliki kemampuan yang di luar akal manusia sehingga tidak perlu sosial media untuk menyebarluaskan dhamma. Sehingga menurut pandangan Buddhisme pabbajta yang menggunakan sosial media, handphone, atau alat-alat lain yang mendukung kemajuan dhamma tidak dilarang, asalkan alat itu benar-benar di lakukan untuk mendukung kemajuan dhamma. Seperti untuk sharing dhamma, diskusi dhamma atau hal-hal yang lain.
Penutup :
Dari artikel ini dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya vinaya itu merupakan hal yang tidak kaku, tidak harus diperdebatkan apakah salah atau tidak jika seorang pabbajta melakukan hal baru namun tidak terdapat dalam vinaya. Kita dapat menelisik sebenarnya bagaimana seorang pabbajta melakukan hal itu serta dapat kita lihat pula apakah motif dari seorang pabbajta menggunakan teknologi di era modern ini. Motif tersebut merupakan tujuan serta manfaat dalam penggunaannya. Apabila penggunaan teknologi ini memiliki tujuan untuk kemajuan dhamma maka hal itu baik, dan jangan ditinggalkan. Tapi sebaliknya jika hal itu tidak bermanfaat maka di tinggalkan.
Implikasinya dapat kita rasakan sebagai umat awam apakah dengan seorang pabbajta memiliki sosial media dapat membantu kita dalam memperdalam agama Buddha atau tidak. Namun menurut saya hal ini sangat memiliki implikasi yang sangat besar bagi saya, karena dengan ini saya sebagai mahasiswa mendapat banyak pengetahuan dalam menjawab soal-soal yang ada di masyarakat maupun di kampus, jadi ini sangat membawa pengaruh yang positif  bagi saya pribadi.
Referensi :
Rasyid, S.2009.Sila dan Vinaya.Jakarta: Buddhis Boddhi.
Sugiarto, R.2014.Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan.Jakarta: Aryasuryacandra.
Tim Penyusun.2003.Materi Kuliah Agama Buddha Untuk Perguruan Tinggi Agama Buddha (Kitab Suci Vinaya Pitaka.Jakarta:CV. Dewi Kayana Abadi.
Wahono, Tri.2012.” Jumlah Pengguna Facebook Indonesia disusul India”.Kompas.1 Februari.
Herufal.2010. “Pengertian Teknologi” (On-Line). http://blog.trisakti.ac.id/herufal/2010/11/04/pengertian-teknologi/. 13 November 2014


[1] Pabbajta adalah seseorang yang meninggakan kehidupan keduniawian atau dapat pula disebut bhikkhu

[2] Sarvasthivada yakni cikal bakal dari theravada.
[3] Mahasanghika yakni cikal bakal dari mahayana.
[4] Gharavasa yakni para perumah tangga atau dapat pula di sebut umat awam.

Minggu, 16 November 2014

Serigala Jakarta Yang Terus Menuntutku
Oleh : Sucitta Rantia Dewi

Hari ini aku berjuang kembali, berjuang ditengah kehidupan metropolitan yang sungguh indah bagi para petinggi di dalamnya. Namaku Nia, sebuah nama yang diberikan oleh orang tuaku ketika aku dilahirkan di dunia ini. Aku sungguh bangga dengan namaku, karena dengan nama itulah aku dapat dikenal oleh teman-temanku. Kini aku duduk di kelas 2 SMA. Sekolah menurutku hal yang sangat luar biasa, disini aku dapat belajar, dan selain itu disini pula tempat untuk aku istirahat, setelah aku kerja mati-matian menjadi seorang kenek metromini yang kerjanya tak tentu sampai kapan. Kadang aku harus kerja hingga larut malam yang paginya aku harus sekolah. Sungguh jika harus jujur aku ingin berkata “Oh Tuhan, Aku lelah. Aku ingin istirahat”, namun aku harus bisa menghilangkan rasa itu. Kalau tidak, bayangkan bagaimana aku bisa bertahan di kota sebesar ini.
Kota ini menuntutku agar aku terus bertahan dalam dirinya, bagaikan seekor serigala yang terus menuntutku untuk memenuhi perutnya yang lapar. “Beri aku makan, beri aku makan atau aku akan memakanmu” teriak sang serigala itu didalam pikiranku. Rasanya lelah, namun jika dibayangkan apabila aku lelah siapa yang akan menopang hidupku ini? ibu dan bapak sudah renta, ibu kini hanya bisa berjualan dirumah setelah kecelakaan itu menimpa ibuku, sedangkan bapak kini hanya menjadi buruh serabutan di toko. Aku tak tega jika harus minta kepada mereka. Apalagi meminta kebutuhan untuk sekolah, malu rasanya. Jika aku bersandar pada lelah saja, itu sama seperti aku menyerahkan diriku ini kepada serigala itu.  Atau dikatakan MATII!!!!. Iya mati di tengah kota Jakarta ini. Harus mati di tengah-tengah penduduk Jakarta yang berjumlah 10.187.595 jiwa, data itu kudapatkan pada tahun 2011 dan kini  sudah tahun 2014 pasti banyak sekali pertambahan penduduk yang terjadi, maklumlah Jakarta memang selalu menjadi  sebuah kota  favorit. Padahal semua tempat di kota ini sudah di penuhi oleh para pendatang yang ingin mengadu nasib, sampai-sampai manusia berjubelan dimana-mana. Rumah-rumah kumuh ada di sepanjang sudut kota Jakarta. Seperti rumahku ini, sebuah gubuk kecil yang ada di tengah kota Jakarta yang memiliki ukuran kurang lebih 3 x 4 meter yang harus ditinggali oleh aku, ibu, dan bapak. Sebenarnya aku tak tau sampai kapan aku disini, aku ketar ketir hidup disini, aku takut ada penertiban dari pemerintah daerah dan penggusuran wilayah ini. Namun apa daya, aku tak bisa pindah dari tempat ini. Bapak selalu menyangkal bahwa tempat ini telah menjadi miliknya. Padahal aku tau ini merupakan tempat yang salah, ketika aku mencoba mengingatkan bapak dan bapak selalu berkata:
“ Tau apa kamu tentang tempat ini? bapak yang lebih lama tinggal disini Nia, kamu jangan ikut campur urusan bapak”
 Sebagai seorang anak aku hanya dapat mengikuti apa yang dikatakan oleh bapak, yang dapat aku lakukan hanyalah aku harus pandai. Pandai dalam mencari celah untuk memenuhi perut serigala itu. Kini aku hanya bisa membantu bapak dengan sedikit caraku, yakni dengan menjadi seorang kenek.
Tak jarang aku diledeki oleh teman-teman sekolahku. Dicemooh “cewek kampungan, cewek metromini” kadang aku malu. Tapi aku pikir lagi, aku disini untuk hidup. Memperjuangkan hidupku, apabila aku tak disini aku mati. Sama saja aku berserah pada serigala itu. Aku lebih mending ditertawai oleh teman-temanku dibanding harus melihat orang tuaku merintih-rintih kelelahan untuk memenuhi kebutuhanku. Pengalaman pahit mengajariku untuk lebih dewasa ketika aku harus berjuang memenuhi kebutuhan berobat ibuku, pengalaman itu terjadi ketika aku sedang sekolah. Ibuku tertabrak oleh mobil dan bayangkan mobil itu tidak memberikan dana sedikitpun untuk ibuku sebagai biaya pengobatan. Mobil itu kabur setelah menabrak ibuku. Aku sangat terpuruk sekali saat itu, aku harus meminjam uang sebesar 50 juta unt.k biaya pengobatan ibuku. Entah karma buruk apa yang terjadi kepadaku. Saat itu ibuku sempat berkata dalam kondisi sakitnya :
“Nia, kalo ibu tidak bersamamu lagi, Ibu mohon kamu jaga bapak ya”
Tangis menderaku kala itu, aku tak mau kehilangan satu malaikat dalam hidupku. Aku ingin kami terus bersama sampai akhirnya kesembuhan itu akan tiba. Kini ibuku dapat kembali ke kehidupan seperti biasanya, rasanya senang sekali bagaikan mendapatkan sebongkah berlian. Namun seperti yang dikatakan dokter, ia harus istirahat total dan tak bisa bekerja keras. Dan karena hal itulah ibu kini hanya bisa membuka toko kecil didepan rumah. Jika aku terus berpikir tidak mau bekerja dibidang ini, maka aku sama saja pasrah pada keadaan. Namun hanya dengan pekerjaan inilah yang membuatku nyaman. Dengan pekerjaan ini aku bisa melunasi sedikit demi sedikit hutang ibuku. Ini pekerjaan yang membuatku nyaman, karena dengan pekerjaan ini aku bisa pulang-pergi ke sekolah gratis. Ini efek samping yang aku sukai saat menjadi kenek, karena jika kerja di tempat lain aku harus mengeluarkan uang untuk ongkos. Selain itu aku pernah mencoba untuk kerja di salah satu kafe sebagai seorang pelayan namun aku dipecat karena ternyata waktu yang tak mendukung aku berada disini. Aku sering telat datang,  taulah bagaimana macetnya ibukota yang di setiap sudut ada saja yang namanya kemacetan. Jika di metromini ini aku bebas bisa datang kapan saja, jelas saja karena pemilik metromini ini adalah tetanggaku.

Malam ini semilir angin telah menemaniku berpasangan dengan cahaya lampu yang terus tersenyum melihatku dikala malam, ditambah suara klakson bagaikan suara harmonika yang menemaniku saat aku berkata “Blok M,  Blok M” kini aku berpikir  bagaikan seorang penyanyi ditemani oleh paduan orkestra yang sangat indah. Hal ini telah terjadi selama satu tahun belakangan ini, hanya itulah yang membangkitkanku dalam pekerjaan ini. Entah sampai kapan aku akan mengakhiri ini semua. Tapi yang jelas, AKU TIDAK AKAN MENYERAHKAN DIRIKU KEPADA SERIGALA ITU!! tidak akan pernah sampai kapanpun. Aku harus terus memberikan perut serigala itu makan hingga serigala itu kenyang dan akhirnya mati.